Propaganda Jahat Bush terhadap Islam & Khilafah
Oleh: Farid Wajdi*
Penyebutan Islam radikal sebagai ideologi di balik serangan terorisme ini disambut baik oleh Walid Phares, pakar terorisme dan profesor pada Middle East Studies. Komentarnya, "Finally, four years after the bloodiest Jihadi attack on the Western Hemisphere, and perhaps worldwide, the President of the United States named the enemy" (Akhirnya, empat tahun setelah serangan jidad paling berdarang pada belahan bumi Barat, dan mungkin seluruh dunia, Presiden AS menyebut musuh). Walid yang lahir di Lebanon , pernah menyurati Bush akhir tahun yang lalu meminta Bush menyebut secara jelas ideologi dibalik perang melawan terorisme ini (CNSNews.com, 7 Oktober 2005).
Bush juga menyebutkan tujuan dari ideologi Islam ini yakni mendirikan pemerintahan Islam dunia yang disebut oleh Bush dengan istilah imperium Islam dari Maroko sampai Indonesia yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan menggantikan pemerintahan moderat di negeri-negeri Islam. "The militants believe that controlling one country will rally the Muslim masses, enabling them to overthrow all moderate governments in the region, and establish a radical Islamic empire that spans from Spain to Indonesia" (Kaum militan percaya dengan mengontrol satu negara akan menggerakkan masa umat muslim, dan memberikan kemampuan buat mereka untuk menggulingkan seluruh pemerintahan moderat di daerah tersebut dan mendirikan sebuah imperium Islam radikal yang terbentang dari Spanyol hingga ke Indonesia), tandas Bush. Meskipun menggunakan istilah radikal imperium Islam, pidato Bush ini mengarah pada institusi politik Islam Khilafah Islam yang memang bersifat global dan menjadikan hukum Islam sebagai sumber hukumnya. "For the first time that I know of, the President has spoken openly about the jihadists' dream of establishing the caliphate" (Untuk pertama kali yang saya tahu, presiden AS berbicara terbuka tentang mimpi para jihadis untuk menegakkan Khilafah), tulis spesialis dan pengarang Islam, Robert Spencer di weblog-nya, Jihad Watch (CNSNews.com, 7 oktober 2005).
Tidak hanya itu , Bush pun membandingkan ancaman ideologi Islam ini sama dengan ancaman komunisme. Kesimpulan Bush sebagaimana komunisme yang merupakan ancaman dunia internasional, ideologi Islam pun seperti itu. Tentang hasilnya, Bush menyebutkan ideologi Islam ini akan kalah, sebagaimana komunisme. Menurut Bush: "Like the ideology of communism, Islamic radicalism is doomed to fail" (Seperti ideologi komunis, radikal Islam akan gagal).
Kenapa Khilafah dan Jihad?
Pidato Bush semakin memberikan gambaran yang jelas pada umat Islam, tentang apa yang sebenarnya menjadi target dari kampanye Bush dalam perangnya melawan terorisme. Sejak awal sebenarnya Bush sudah memberikan gambaran yang jelas, bahwa perang yang dia lakoni saat ini merupakan kelanjutan dari perang Salib. Bush dalam pidatonya setelah serangan WTC September 2002 mengatakan dengan sangat jelas, "This Crusade, this war on terorrisme ……." Hal ini semakin diperjelas dalam pidatonya kemarin. Bahwa target perang melawan terorisme sebenarnya adalah Islam dan umat Islam. Tidaklah mengherankan kalau kata-kata Islam demikian banyak muncul dalam pidatonya. Termasuk tidaklah mengherankan kalau yang paling banyak menjadi korban dalam perang-nya ini adalah umat Islam.
Lebih spesifik lagi Bush menyerang sistem politik Khilafah Islam yang pernah menyatukan umat Islam seluruh dunia dan konsep jihad. Kenapa Bush menyerang Khilafah Islam dan jihad , kerena kedua hal kalau dilaksankan akan secara nyata mengancam kepentingan penjajahan Barat. Khilafah Islam akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dibawah aturan hukum Islam (syariat). Bersatunya umat Islam adalah paling dikhawatirkan Barat sebab akan mengancam penjajahan mereka. Barat sangat sadar umat Islam bisa dijajah karena mereka terpecah belah atas dasar konsep negara bangsa (nation state). Apalagi umat Islam diatur oleh hukum Islam , yang tidak akan membiarkan terjadinya penjajahan atas negeri Islam, tidak membiarkan eksploitasi kekayaan umat Islam untuk kepentingan penjajah, dan akan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi umat Islam. Kalau ini terjadi, kapitalisme akan bangkrut total.
Adapun konsep jihad, memang paling sering diserang oleh Barat. Sebab kalau praktik jihad ini dilaksanakan secara benar , tidak ada satu negeri Islampun yang akan dibiarka oleh umat Islaml untuk dijajah dan diduduki oleh Barat. Umat Islam akan saling bahu membahu membebaskan negeri Islam yang dijajah tersebut. Sebagaimana umat Islam dengan seruan jihad, membebaskan Palestina yang diduduki pasukan salib dibawah pimpinan Sholahuddin al Ayyubi. Atas seruan jihad ini pula Konstantinopel ditaklukkan oleh pasukan Muhammad al Fatih. Terang saja kewajiban jihad ini paling dikhawatirkan oleh Barat akan muncul kembali di tengah-tengah umat Islam.
Bush dan Blair sebenarnya mewarisi ketakutan penguasa kolonial yang telah menghancurkan Khilafah Islam. Sebagaimana penguasa kolonial sebelumnya, mereka menyadari Islam dan Khilafah adalah kekuatan umat Islam. Seperti yang dilontarkan oleh menlu Inggris sebelumnya, Lord Curzon yang mengatakan tidak perlu khawatir tentang Turki yang dihancurkan Inggris pada 1924 . Sebab, menurutnya, kekuatan Turki yakni Islam dan Khilafah sudah hilang. "the point at issue is that Turkey has been destroyed and shall never rise again, because we have destroyed her spiritual power: the Caliphate and Islam" (point pada isu ini adalah Turki telah dihancurkan dan tidak akan bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spritualnya: Khilafah dan Islam ), tandas Curzon.
Propaganda Jahat
Tidak mengherankan pula dalam pidatonya diatas, Bush banyak melakukan kebohongan dan propaganda hitam dan jahat (black and evil propanganda) terhadap ideologi Islam, Khilafah Islam dan jihad.
1. Serangan terhadap ideologi Islam.
Dalam pidatonya Bush mengkaitkan ideologi Islam ini dengan kata radikal, militan bahkan fascis. Sementara Blair menggunakan istilah ideologi iblis. Kita ketahui istilah-istilah ini adalah istilah propaganda yang sering disebutkan tapi tidak pernah jelas pengertiannya. Jangankah itu, istilah terorisme pun hingga saat ini tidak jelas . Sementara kata radikal, militan, dan fascis sendiri sudah berkonotasi negatif. Sehingga ketika Islam dikaitkan dengan radikal, militan, dan fascis, secara opini sudah berkonotasi negatif. Dan memang dalam bahasa propaganda tidak akan ada rincian dan kejelasan. Sebab kalau ada rincian dan kejelasan, akan membuat propanda itu gagal.
Sebagai contoh kalau istilah radikal, dimaknai upaya ingin merubah secara total tatanan sistem yang sudah ada. Maka istilah ini tidak selalu negatif. Kalau sistem yang ada memang korup dan bankrut, apa salahnya untuk diubah secara total. Kalau radikal diartikan upaya paksa untuk merombak sistem yang ada, AS juga akan masuk kedalamnya. Sebab AS juga secara paksa bahkan dengan perang ingin memaksakan sistem demokrasi di Irak. Sama halnya dengan istilah terorisme. Memang sengaja dikaburkan maknanya dan tidak akan pernah ada rinciannya. Sebab kalau terorisme diartikan sebagai upaya melakukan serangan fisik yang mengancam masyarakat sipil untuk kepentingan politik tertentu, Amerika Serikat jelas teroris. Sehingga dalam bahasa propaganda siapa yang paling sering dan intens menggunakan istilah 'kabur' tersebut terhadap lawan politiknya dialah yang akan unggul. Tidak mengherankan kalau istileh radikal, militan, jihad, terus menerus dipropagandakan oleh Barat untuk kepentingan politik mereka.
2. Mengkaitkan Perjuangan Khilafah dengan Kekerasan
Bush dan sekutunya menyerang sistem Khilafah dan syariah Islam dengan mengkaitkannya dengan terorisme. Lebih jauh Bush mendramatisrnya dengan kalimat, "Like the ideology of communism, our new enemy teaches that innocent individuals can be sacrificed to serve a political vision" (seperti ideologi komunis, musuh kita mengajarkan bahwa individu yang tidak bersalah bisa dikorbankan untuk mencapai sebuah tujuan politik). Pengkaitan ini jelas propaganda jahat. Sebab, disamping istilah terorisme sendiri masih kabur dan bias, banyak kelompok Islam yang tujuannya menegakkan syariah Islam tidak pernah menjadikan kekerasan sebagai cara untuk memperjuangkan Khilafah Islam. Hizbut Tahrir, misalkan, sudah lebih dari 50 tahun memperjuangkan Khilafah dengan cara politik dan pemikiran, tanpa menggunakan kekerasan. Meskipun diberbagai negara, anggota-anggota Hizbut Tahrir, disiksa dan dipenjara oleh rezim-rezim korup yang justru didukung Barat, dengan cara yang sangat kejam, seperti yang terjadi di Uzbekistan, Mesir, dan Turki. Tidak sedikit pula kelompok Islam yang masih mencita-citakan syariah Islam justru menggunakan cara demokrasi dengan ikut dalam pemilu.
Memang pengkaitan dengan kekerasan ini merupakan faktor penting dalam keberhasilan Bush dan sekutunya dalam menyerang sistem Khilafah. Kalau opini bohong ini berhasil diterima, masyarakat jelas akan menolak sistem Khilafah. Strategi ini diungkap secara jelas dalam rekomendasi yang dikeluarkan Nixon Centre tentang Hizbut Tahrir. Dalam laporan tersebut ditulis, As a start, HT's selfcreated image of a "peaceful" organization needs to be destroyed (sebagai langkah citra HT sebagai organisasi damai butuh untuk di hancurkan). (Lihat Hizb ut- Tahrir, Islam's Political Insurgency, Zeyno Baran, The Nixon Center December 2004).
Barat juga secara sengaja tidak membedakan antara perjuangan membebaskan diri dari penjajahan dengan tindakan terorisme. Apa yang dilakukan kelompok Islam di Afghanistan, Irak, dan Palestina, tentu tidak bisa disebut tindakan terorisme. Sebab yang dilakukan oleh umat Islam disana adalah membebaskan diri dari dari penjajahan yang secara langsung menduduki negeri-negeri tersebut.
Justru fakta yang sebenarnya, Amerika Serikat lah yang menggunakan jalan kekerasan untuk meraih kepentingan politiknya. Sejarah kolonial ideologi Kapitalis dari dulu hingga saat ini tercatat telah mengorbankan jutaan manusia di dunia. Serangan AS terhadap Irak dan Afghanistan adalah bukti yang nyata. Dan AS dan sekutunya juga yang menghalalkan segala cara untuk membunuh rakyat sipil. Sudah terbukti perang yang dilakukan AS di Irak adalah ilegal, PBB juga tidak merestuinya, apalagi alasan yang diungkap oleh AS penuh dengan kebohongan, seperti isu senjata pemusnah masal. Justru pemerintah Bush-lah yang tanpa merasa malu dan bersalah membunuh rakyat sipil yang tidak berdosa. Menurut Iraqi Body Count jumlah rakyat sipil yang terbunuh di Irak saat ini lebih dari 25.000 orang. AS pun tidak kenal waktu untuk membunuh kaum muslim. Saat umat Islam sedang menjalani puasa dan aidul Fitri, AS tetap saja melakukan serangan besar-besaran yang membunuh banyak rakyat sipil. Jadi siapa yang disebut teroris yang menghalalkan secara cara itu?
3. Menyamakan Islam dengan Komunisme
Untuk memperkuat propaganda jahatnya Bush mengkaitkan ideologi Islam yang dia sebut radikal dengan komunisme. Taktik busuk dari orang-orang yang kehilangan akal sehat. Mengkaitkan Islam dengan komunisme tidak lain untuk mendapat dukungan rakyat AS. Bush, tahu persis, rakyat Amerika sebelumnya menjadikan komunisme sebagai common enemy (musuh bersama). Bush ingin mengulang pola itu. Sesuatu yang sangat menggelikan. Sebab siapapun tahu ideologi Islam bertolak belakang 180 derajat dengan komunisme. Islam mengakui keberadaan Tuhan, sementara komunisme anti Tuhan. Bagaimana mungkin Islam disamakan dengan komunisme.
Tampaknya, pengkaitan dengan komunisme yang dilakukan oleh Bush ini sejalan dengan penjelasan keliru Nixon Centre tentang perjuangan Hizbut Tahrir, dalam laporan tersebut disebut Hizbut Tahrir dituduh mengawinkan taktik dan strategi Islam dan leninisme (marrying Islamist ideology to Leninist strategy and tactics). Bush tampaknya harus banyak membaca buku-buku Hizbut Tahrir yang banyak mengkritik teori-teori sampai taktik strategi Marxis dan Lenisme.
Dalam buku Nidhomul Islam (Sistem Islam), Syaikh Taqiyuddin justru mengkritisi cara-cara komunisme dalam menerapkan ideologi di tengah masyarakat, yakni dengan cara kekerasan (totaliter). Menurut pendiri HT ini cara-cara seperti ini tidak akan kekal ,sebab akan mendapat perlawanan dari masyarakat. Dan itu terbukti bagaimana pemerintah komunis justru ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri. HT, mengungkapkan bagaimana gambaran Islam dengan penguasa yang harus menjadikan dirinya sebagai pelayan umat. Dalam buku Nidhomul Hukmi fil Islam (Sistem Pemerintah Islam), HT juga mengkritik pemerintahan militer dan menjelaskan sistem Khilafah bukanlah pemerintah militer. Tidak hanya itu, berbeda dengan perjuangan komunisme yang menghalalkan segala cara, HT secara tegas mengadopsi pendapat Islam yang melarang penggunaan kekerasan untuk menegakkan kembali Khilafah Islam.
Khilafah Islam: Bukan ancaman tapi Harapan
Bush ingin membangun opini bahwa Khilafah adalah ancaman bagi dunia saat ini. Bush lupa, justru sistem Kapitalisme-lah yang merupakan ancaman bagi dunia. Sistem yang dipraktekkan oleh AS dan sekutunya inilah telah menjadi wabah yang membawa penderitaan umat manusia. Kemiskinan global, konflik, kesenjangan negara kaya dan miskin, merupakan dampak dari Kapitalisme global. Bukan karena Islam. Kenyataan dunia ini secara terbuka dikatakan oleh Koffi Annan pada pertemuan Group 77 di Sao Polo Brasil, menurutnya 25 ribu orang meninggal karena kalaparan dan kemiskinan setiap hari, setiap lima detik seorang bayi meninggal. Bush tampaknya pura-pura tidak tahu, bagaimana ribuan orang turun di jalan-jalan di Eropa dan Amerika Latin setiap kali Bush datang. Mereka semuanya menolak kapitalisme global yang mensengsarakan manusia.
Justru Khilafah Islam adalah harapan bagi dunia. Sistem Khilafah adalah sistem agung yang akan menyelamatkan dunia. Bukan hanya bagi muslim tapi juga non muslim. Saat Khilafah masih berdiri, Khilafah menjadi pusat peradaban dunia dengan ketinggian sains dan teknologinya. Khilafah Islam juga memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Negeri-negeri yang bergabung dengan Khilafah bukan dieksploitasi kekayaannya untuk pusat kekhilafahan . Khilafah memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dari Daulah Khilafah Islam. Seperti yang ditulis Osama Saeed juru bicara the Muslim Association of Britain di the Guardian tentang sistem Khilafah, "In its dynamic period, the Islamic caliphate was at the heart of a great civilisation, leading the world in science, philosophy, law, maths and astronomy" (dalam priode dinamisnya, Khilafah Islam telah menjadi jantung dari peradaban agung dunia, memimpin dunia dalam sains, filsafat, hukum, matematika dan astronomi). [HTI Online]
0 Comments:
Post a Comment
<< Home